
Geotextile itu bahan yang sering dipakai di konstruksi, terutama untuk stabilisasi tanah dan sebagai pengontrol erosi. Perbedaan utama antara geotextile non-woven dan woven itu terletak pada proses pembuatannya dan sifat-sifatnya:
1. Geotextile Woven (Anyaman) :
– Dibuat dengan cara menganyam benang atau serat menjadi kain.
– Lebih tinggi kuat tariknya dan lebih tahan terhadap robekan.
– Biasanya digunakan untuk aplikasi yang membutuhkan kekuatan tinggi, seperti perkuatan tanah dan dasar jalan.
2. Geotextile Non-Woven (Tidak Dianyam) :
– Dibuat dengan cara mengikat serat-serat secara acak dengan proses seperti needle-punching.
– Lebih fleksibel dan permeabel (bisa dilewati air).
– Sering digunakan untuk aplikasi filtrasi, separasi, dan proteksi.
Jadi, pilihan antara woven dan non-woven tergantung kebutuhan proyeknya, seperti kekuatan, permeabilitas, dan fungsi yang diinginkan 😊.
NON WOVEN punya beberapa jenis dan ukuran, tergantung kebutuhan dan standar yang digunakan. Berikut beberapa klasifikasi umum:
Geotextile Non-Woven:
1. Needle-Punched Non-Woven : Dibuat dengan proses needle-punching, lebih tebal dan kuat.
2. Heat-Bonded Non-Woven : Dibuat dengan proses pengikatan termal, lebih tipis dan kurang permeabel.
Ukuran Geotextile Non-Woven:
– Gramasi (g/m²) : Menunjukkan berat per satuan luas, contohnya 150 g/m², 200 g/m², 300 g/m², dst. Semakin tinggi gramasi, semakin tebal dan kuat geotextile-nya.
-Lebar : Biasanya tersedia dalam ukuran 4 m atau 6 m.
-Panjang : Biasanya dijual per roll, dengan panjang bervariasi (misalnya 50 m, 100 m).
Contoh Spesifikasi:
– Geotextile non-woven 200 g/m², lebar 4 m, panjang 100 m.
Pilihan ukuran tergantung aplikasi dan kebutuhan proyeknya, seperti kekuatan, permeabilitas, dan fungsi yang diinginkan 😊. Kamu butuh bantuan untuk pilih ukuran yang tepat?
